Sosok Wieteke Van Dort Pencipta Lagu Hallo Bandoeng !

Mungkin sebagian orang yang ada di Indonesia sedikit asing dengan nama Wieteke Van Dort atau yang kerap disapa dengan nama panggilannya Tante Lien. Dirinya ini termasuk seorang Aktris, Penyanyi, Komedian, Penulis dan jelas Beliau adalah seorang Seniman. Sebenarnya saya sendiri tahu kehadiran dari Tante Lien ini hanya secara kebetulan saja. Dimana saya ini termasuk tipikal yang moodboster sekali, namun untuk bisa sedikitnya membangkitkan mood saya itu harus disuplai dengan penggunaan dari beberapa lagu yang ada. Sebab itulah, saya sempat iseng-iseng nge search lagu-lagu yang berasal dari Belanda. Eh kebetulan langsung di rekomendasikan oleh pihak Youtube lagu ternama milik dari Tante Lien yakni “ Hallo Bandoeng “ dengan lagu “ Geef Mij Maar Nasi Goreng “ …  dan sumpah, 2 lagu ini sampai sekarang masuk ke top list yang saya miliki. 

Mungkin pertama kali kalian mendengar lagu ini sangat amat aneh, karena itu juga menjadi salah satu hal yang saya rasakan. Namun dari keisengan yang saya miliki, maka saya mencari tahunya melalui Asisten Google yang ada di HP saya. Disini saya mencari tahu tentang siapa itu sebenarnya Tante Lien dan mencari tahu lirik asli serta makna yang tersirat dari dalam lagu tersebut. Dan seperti biasa, karena asisten saya ini pintar, munculah beberapa referensi artikel yang berisikan tentang siapa Tante Lien ini. Untuk bisa menambah wawasan kalian lebih jauh dan lebih dalam lagi, maka saya akan membantu kalian memberitahu siapa Beliau sebenarnya dan memberi tahu makna yang ada di lagu Hallo Bandoeng secara tipis-tipis. Kalau ada kesempatan lainnya, barulah saya akan membahas mengenai lagu dari Geef Mij Maar Nasi Goreng atau Nasi Goreng ini. 

Profil dari Tante Lien atau Wieteke Van Dort 

Nama lengkapnya sendiri adalah Louisa Johanna Theodora Wieteke Van Dort. Siapa sangka, Beliau ini lahir di Surabaya pada tanggal 16 Mei sejak tahun 1943 silam. Beliau ini dikenal sebagai seorang Aktris – Kaberatis – Seniman dan Penyanyi Belanda. Nyatanya memang Beliau ini sudah dikenal dari berbagai macam program televisi untuk anak-anak sebagai seorang pembawa acara Late Lien Show dengan memiliki pesona indahnya sebagai wanita Indisch. 

Surabaya dilansir menjadi kota kelahirannya dan disana Beliau sudah menempuh masa kecilnya sampai dengan memasuki ranah sekolah kelas menengah. Dikala itu, Beliau ini masih berumur 14 tahun dan bersama keluarganya sendiri berlibur ke Belanda. Sesuai zaman, presiden Ir.Soekarno pada masanya menjalankan kebijakan Nasionalisasi sehingga bisnis dari keluarganya ini harus disita oleh Republik Indonesia dan memaksa Beliau harus tinggal di Belanda dan tidak bisa kembali lagi ke Indonesia. 

Kota Tempat Tinggalnya sendiri ada di Den Haag, Beliau ini meninggalkan sekolah kelas menengah tanpa adanya Ijazah dan memulai untuk masuk sekolah drama. Walau demikian, Beliau ini hebat lho masih bisa bergabung dalam sebuah kelompok drama Nieuwe Komedi yang kemudian berkarir di bidang pertunjukan dan juga lanjutnya menjadi seorang penyanyi. 

Dan di Tahun 1980’an Beliau ini mulai membawakan acara yang bersuasanakan khas sekali Indonesianya atau Indisch bernama The Late Lien Show. Beliau juga nyatanya merekam cerita serta lagu bertema indo dengan bahasa Belanda Kreol yakni dialek dari Indisch. Dikarenakan memiliki konsistensinya di dalam memperkenalkan kultur Indo, pada akhirnya di tanggal 29 April tahun 1999 Van Dort dianugerahi sebuah penghargaan terbaik sebagai Ksatria Bintang Jasa oranye – Nassau. 

Karier Awal dari Wieteke Van Dort 

Jadi usut punya usut dari sumber terpercaya, Beliau mendapatkan julukan Tante Lien akibat sukses memerankan sosok Tante Lien di dalam show The Late Lien Show. karirnya sendiri dimulai sesudah beliau ini menikah dengan Theo Moody dan memiliki karir yang sukse di Radio dan TV. 

Di sebuah acara yakni “ de stratemakeropzeeshow “ dengan pemain Aart  Staartjes dan juga Joost Prinsen Beliau ini berhasil memerankan Nyonya Terhormat. Dan di tahun 1970 silam, Beliau ini mulai muncul pada program TV untuk anak-anak yang memiliki judul Lawaaipapegaai. Selain itu, Tante Lien sendiri juga ikut berpartisipasi nih guys dalam sebuah program TV yang berjudul Het Klokhuis. 

Kisah Dibalik Perjalanan Lagu Hallo Bandoeng ! 

Sebelumnya saya ingin membeberkan, sesaat setelah kalian melihat video yang ada berbarengan dengan lagu tersebut. Maka kalian semua akan diajak masuk ke dalam musik tersebut, dan merasakan bagaimana kegelisahaan antara Cerita dan Rindu menjadi satu di dalam lagunya tersebut. 

Lagu ini sendiri awal-awal tahun 1929 sudah dinyanyikan dan ditulis langsung oleh William Frederik Christian Dieben atau kalian search saja dengan nama Willy Derby. Dulunya lagu ini memang dinyanyikan dengan bantuan dari Orkestra dan penyebarannya masih berupa piring hitam, bukan seperti sekarang melalui segala macam platform. Dan dulunya lagu ini benar-benar diakui ketenarannya di Belanda sampai dengan Hindia Belanda sekalipun itu. 

HALLO BANDOENG

Dan dimulai dari tahun 1979 silam, barulah penyanyi Belanda yang bernama Wieteke Van Dort atau Tante Lien ini menyanyikan kembali lagu tersebut. Di dalam lagu ini terdapat perbedaan yang jelas, dimana kali ini diiringinya dengan Notes-Notes Piano yang sangat amat indah. Sebenarnya ada beberapa poin penting yang terkesan memiliki sebuah makna di dalam lagunya itu sendiri. 

Point-point yang bisa saya uraikan dari isi lagu yang saya dengarkan sendiri seperti : 

1. Adanya perasaan teramat dalam yang mengungkapkan kerinduan dari seorang Ibu kepada anaknya yang akan kalian temui di bagian refrain dari lagu tersebut. 

2. Lalu kalau jika kalian iseng, maka akan muncul di point ke dua kata Tabik / Tabeh atau Sabeh . Dan jika kalian bisa artikan, menjadi kata “ Selamat Tinggal “ .. sumpah, dibagian ini aku selalu merinding kayak berasa ada ikatan teramat di dalam lagunya tersebut. Dan jangan salah, bahasa ini adalah bahasa Indonesia yang sejak dulu penggunaannya sudah ada. Akan tetapi, sudah lama juga ditinggalkan oleh orang Indonesia dikarenakan penggunaan bahasa yang mengikuti perkembangan zaman. 

Lagu yang Berhubungan dengan Komunikasi LINTAS LAUT !

Jadi jika melihat sejarah dari lagu ini, diceritakan sudah sebelum tahun 1923 ada. Nyatanya komunikasi antara Hindia Belanda dengan Belanda akan selalu menggunakan pos laut. Dan jika menggunakan pos laut, maka waktu yang benar-benar dibutuhkan untuk sampai ke Belanda itu kurang lebihnya 1 bulan. Akan tetapi, pada saat memasuki tahun 1856 Hindia Belanda sudah mampu menggunakan adanya sistem dari Telegraf Elektromagnetik yang mana menggunakan jaringan dari kabel laut. 

Lalu saat masuk Perang dunia ke 1 – dikabarkan juga bahwa Pemerintah Hindia Belanda ini sangat amat khawatir akan kabel laut yang rusak oleh perang. Sebab itu mulai muncul gagasan baru dalam membangun adanya pemancar telegraf serta telepon radio. Ide ini benar-benar terwujudkan dengan pembangunan dari Kompleks Stasiun Radio Malabar sejak tahun 1917 sampai dengan 1927 silam. 

Hallo Bandoeng

Lalu Mei tahun 1923 silam, pemerintah Hindia Belanda mulai mengirim pesan telegraf radio kepada Ratu Belanda ( pada masa itu ya ) serta Menteri urusan Koloni. Dan di tahun 1924 silam, dilakukanlah sudah sebuah percobaan telepon radio. Dan tahun 1927 datang, mulai ada percakapan pertama di TELEPON RADIO antar Hindia Belanda dengan Belanda yang berhasil dilakukannya. 

Lantas hubungannya dengan Hallo Bandoeng ini apa ?…. justru ini ada sangkut pautnya. Jika masih ingat, sekilas kalian akan membaca tulisan Radio Malabar bukan ? nah kata Hallo Bandoeng ini berarti tanda panggilan dari Stasiun Radio Malabar. Sebab itulah, kalian akan menemukan banyak sekali kata panggilan Hallo Bandoeng tersebut ! 

Kalau kalian melihat video yang beredar di Youtube, ada salah satu video yang mana tidak memakai lirik namun sarat akan makna dari gambaran video yang berjalannya. Terlebih lagi pas ada lirik dari refrainnya yang mana mengatakan “ Hallo Bandoeng, iya ibu saya disini.. Salam dari cucumu yang manis ini !.. apa kabar mu Ibu ? saya sangat kangen kamu ! “ sumpah bener-bener merinding banget guys kalau kalian menghayati seperti apa yang saya lakukan. Dan puncaknya waktu sang anak memperkenalkan bahwa ada cucu bungsunya yang ingin berkenalan dan baru berucap kata Neneku yang manis, lalu terdengar kata tambahan “ Tabeh-Tabeh, atau selamat tinggal “ dan dari sinilah suara Hallo Bandoeng sudah tidak pernah terdengar lagi dari gema telepon itu berbunyi.